
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Dialog Tokoh yang menghadirkan pakar ekonomi sumber daya alam dan lingkungan dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Ir. H. Slamet Subari, M.Si., di Aula Rahmad Rahman, Pesantren Hidayatullah Surabaya, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 05.00-06.30 WIB setelah salat Subuh tersebut dipandu Abah Ahmad Suyanto, selaku Kepala Departemen Pengkaderan.
Dalam pemaparannya, Slamet Subari yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian UTM menekankan pentingnya Indonesia memperkuat kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Menurutnya, ketergantungan pada impor pangan tidak hanya berimplikasi terhadap pengeluaran negara, tetapi juga berpotensi mengancam stabilitas pasokan dalam negeri ketika terjadi krisis global, konflik geopolitik, maupun gangguan rantai distribusi internasional.
“Kita tidak bisa menitipkan urusan perut 288 juta rakyat Indonesia pada kebaikan negara lain. Belajar dari pandemi Covid-19 dan ketegangan global seperti perang Ukraina, stabilitas pasokan dalam negeri adalah harga mati,” tegasnya.
Optimalisasi Lahan dan Pemulihan Kesuburan Tanah
Untuk memperkuat kedaulatan pangan, Slamet memaparkan dua strategi yang perlu mendapat perhatian, yakni optimalisasi lahan potensial dan pemulihan kesuburan tanah melalui pendekatan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pertama, optimalisasi lahan yang belum dimanfaatkan secara produktif. Ia menyoroti potensi lahan rawa pasang surut dan rawa lebak yang dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian, terutama sawah, melalui kajian teknis dan pengelolaan yang tepat.
Dalam paparannya, ia menyebutkan potensi lahan tidur nasional mencapai 33,4 juta hektare, dengan sekitar 9,3 juta hektare dinilai layak untuk dikembangkan menjadi sawah produktif. Pemanfaatan lahan tersebut, menurutnya, perlu mempertimbangkan aspek kelayakan teknis, biaya, keberlanjutan lingkungan, serta kesesuaian tata ruang.
Ia juga menyoroti pentingnya efisiensi pembiayaan dalam program perluasan areal tanam. Pengembangan lahan yang telah memiliki potensi pertanian dinilai perlu menjadi salah satu pertimbangan sebelum membuka lahan baru yang membutuhkan investasi besar.
Kedua, restorasi kesuburan tanah melalui pemanfaatan teknologi probiotik dan praktik pertanian organik. Slamet menjelaskan bahwa pengelolaan tanah yang kurang tepat serta penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan dalam jangka panjang dapat memengaruhi kualitas tanah dan produktivitas pertanian.
Karena itu, upaya pemulihan kesehatan tanah melalui pemanfaatan mikroorganisme yang bermanfaat, perbaikan bahan organik, dan penerapan praktik budidaya yang berkelanjutan perlu dikembangkan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani.
Dalam paparannya, ia juga menyinggung potensi teknologi probiotik untuk mendukung pemulihan kondisi tanah dengan tambahan biaya yang relatif terjangkau. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi lahan dan diuji berdasarkan hasil budidaya di lapangan.
Pesantren sebagai Pelopor Pertanian Berbasis Komunitas
Dialog yang diselenggarakan setelah salat Subuh ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga momentum untuk mendorong keterlibatan jaringan pengkaderan Hidayatullah dalam pengembangan sektor pertanian.
Slamet mengajak jaringan pengkaderan Pesantren Hidayatullah untuk mengambil peran nyata melalui gerakan pertanian organik berbasis komunitas. Pesantren, menurutnya, memiliki potensi untuk menjadi pusat edukasi, percontohan, dan penggerak pemberdayaan masyarakat di bidang pangan.
Gerakan tersebut dapat dimulai melalui pemanfaatan lahan pesantren, pengembangan kebun produktif, edukasi pertanian kepada santri, serta kolaborasi dengan petani dan pemangku kepentingan setempat.
Dengan langkah konkret tersebut, pesantren diharapkan mampu mengintegrasikan pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Kegiatan Dialog Tokoh ini menjadi bagian dari upaya Departemen Organisasi Hidayatullah Surabaya untuk memperluas wawasan kader dan mendorong lahirnya kontribusi nyata bagi masyarakat. Kesadaran akan pentingnya kedaulatan pangan diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut menjadi gerakan produktif yang berkelanjutan.